Pemberian scaffolding terhadap berpikir pseudo penalaran siswa dalam mengkonstruksi grafik fungsi

Struktur berpikir pseudo merupakan struktur berpikir semu yang dialami siswa ketika memecahkan suatu masalah, dimana siswa tidak mengetahui letak kesalahan yang dilakukan. Siswa diberikan masalah berupa soal mengkonstruksi grafik fungsi eksponensial dan logaritma. Beberapa penyebab terjadinya proses...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Authors: Ratna Yulis Tyaningsih, Dwi Novitasari, Deni Hamdani, Aprilia Dwi Handayani, Samijo Samijo
Format: Article
Language:English
Published: CV. Media Digital Publikasi Indonesia 2020-09-01
Series:Journal of Science and Education
Subjects:
Online Access:https://jse.rezkimedia.org/index.php/jse/article/view/9
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
Description
Summary:Struktur berpikir pseudo merupakan struktur berpikir semu yang dialami siswa ketika memecahkan suatu masalah, dimana siswa tidak mengetahui letak kesalahan yang dilakukan. Siswa diberikan masalah berupa soal mengkonstruksi grafik fungsi eksponensial dan logaritma. Beberapa penyebab terjadinya proses berpikir pseudo siswa ketika mengkonstruksi grafik fungsi eksponensial dan logaritma adalah adalah (1) salah satu langkah proses penyelesaian diabaikan siswa, (2) tergesa-gesa ketika menghitung atau menggambar, (3) tidak bisa mengaitkan konsep satu dengan yang lain, (4) kurang memahami materi prasyarat, dan (5) tidak melakukan aktivitas refleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pemberian scaffolding terhadap struktur berpikir pseudo siswa dalam mengkonstruksi grafik fungsi eksponensial dan logaritma. Subjek penelitian ini terdiri dari 2 siswa dengan kemampuan matematika sedang dan rendah. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan tes dan wawancara untuk mengetahui proses berpikir pseudo siswa ketika mengkonstruksi grafik fungsi eksponensial dan logaritma. Dalam penerapan scaffolding, alat bantu yang digunakan adalah Geogebra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses scaffolding akan berhasil jika siswa memiliki kemauan untuk memperbaiki kesalahan sampai diperoleh jawaban yang benar. Pemberian scaffolding dimulai dari level 1 environmental provisions yaitu pemberian stimulus berupa masalah dengan alat bantu visualisasi, level 2 explaining, reviewing, and restructuring yaitu penjelasan rumusan masalah dan proses review. Pada level 3 developing conceptual thinking, yaitu tanya jawab hal-hal yang bersifat konseptual.
ISSN:2745-5351