Dialog Antaragama melalui Media: Perspektif dan Keterbatasan Perdamaian Jurnalisme

Bentrokan suku dan konflik di antara orang Indonesia berasal dari konflik agama memerlukan dialog antaragama mendesak. Media, sebagai salah satu agen sistem sosial, diyakini bisa memfasilitasi orang-orang semacam dialog. Konsep yang diperkenalkan di sini yang cocok untuk tujuan tersebut adalah Perda...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Author: Thomas Hanitzsch
Format: Article
Language:English
Published: Universitas Islam Bandung 2003-06-01
Series:MediaTor
Subjects:
Online Access:http://ejournal.unisba.ac.id/index.php/mediator/article/view/794
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
_version_ 1849768053766619136
author Thomas Hanitzsch
author_facet Thomas Hanitzsch
author_sort Thomas Hanitzsch
collection DOAJ
description Bentrokan suku dan konflik di antara orang Indonesia berasal dari konflik agama memerlukan dialog antaragama mendesak. Media, sebagai salah satu agen sistem sosial, diyakini bisa memfasilitasi orang-orang semacam dialog. Konsep yang diperkenalkan di sini yang cocok untuk tujuan tersebut adalah Perdamaian Jurnalistik. Menurut definisi, Perdamaian Jurnalisme adalah program atau kerangka liputan berita jurnalistik, yang berkontribusi pada proses pembuatan dan melindungi perdamaian masing-masing dengan penyelesaian damai atas konflik. Konsep Perdamaian Jurnalisme terlihat sangat cocok terutama untuk budaya Asia dan Islam di mana tujuan komunikasi adalah untuk menghasilkan harmoni sosial dan kebebasan (Hasnain, 1988). Namun, konsep ini juga memiliki keterbatasan. Keterbatasan Mereka berasal dari hubungan yang kompleks antara jurnalisme dan masyarakat, dan tantangan dari jurnalisme yang dilayani dengan baik untuk membangun realitas. Menurut penulis, ada lima solusi dapat dicapai untuk mempertahankan dialog antaragama berbuah memfasilitasi oleh Perdamaian Jurnalistik. Pertama, perbaikan pendidikan jurnalisme dan pelatihan lanjutan untuk wartawan. Kedua, mendalam-penelitian secara menyeluruh dan oleh para ahli untuk memberikan pandangan eksternal pada jurnalisme dan operasi yang dapat menyebabkan koreksi diri. Ketiga, pertumbuhan "Media jurnalisme". Keempat, dewan pers yang kuat untuk mengontrol pers. Kelima, dan mungkin yang paling penting, sistem hukum yang dapat diandalkan.
format Article
id doaj-art-fb9445ce11ba4da3ab393e9fa3127ee8
institution DOAJ
issn 1411-5883
language English
publishDate 2003-06-01
publisher Universitas Islam Bandung
record_format Article
series MediaTor
spelling doaj-art-fb9445ce11ba4da3ab393e9fa3127ee82025-08-20T03:03:58ZengUniversitas Islam BandungMediaTor1411-58832003-06-01413340631Dialog Antaragama melalui Media: Perspektif dan Keterbatasan Perdamaian JurnalismeThomas Hanitzsch0Institut Studi Komunikasi dan Media Research, LMU Munich, JermanBentrokan suku dan konflik di antara orang Indonesia berasal dari konflik agama memerlukan dialog antaragama mendesak. Media, sebagai salah satu agen sistem sosial, diyakini bisa memfasilitasi orang-orang semacam dialog. Konsep yang diperkenalkan di sini yang cocok untuk tujuan tersebut adalah Perdamaian Jurnalistik. Menurut definisi, Perdamaian Jurnalisme adalah program atau kerangka liputan berita jurnalistik, yang berkontribusi pada proses pembuatan dan melindungi perdamaian masing-masing dengan penyelesaian damai atas konflik. Konsep Perdamaian Jurnalisme terlihat sangat cocok terutama untuk budaya Asia dan Islam di mana tujuan komunikasi adalah untuk menghasilkan harmoni sosial dan kebebasan (Hasnain, 1988). Namun, konsep ini juga memiliki keterbatasan. Keterbatasan Mereka berasal dari hubungan yang kompleks antara jurnalisme dan masyarakat, dan tantangan dari jurnalisme yang dilayani dengan baik untuk membangun realitas. Menurut penulis, ada lima solusi dapat dicapai untuk mempertahankan dialog antaragama berbuah memfasilitasi oleh Perdamaian Jurnalistik. Pertama, perbaikan pendidikan jurnalisme dan pelatihan lanjutan untuk wartawan. Kedua, mendalam-penelitian secara menyeluruh dan oleh para ahli untuk memberikan pandangan eksternal pada jurnalisme dan operasi yang dapat menyebabkan koreksi diri. Ketiga, pertumbuhan "Media jurnalisme". Keempat, dewan pers yang kuat untuk mengontrol pers. Kelima, dan mungkin yang paling penting, sistem hukum yang dapat diandalkan.http://ejournal.unisba.ac.id/index.php/mediator/article/view/794Dialog Antaragama, Media, Jurnalisme, bentrok
spellingShingle Thomas Hanitzsch
Dialog Antaragama melalui Media: Perspektif dan Keterbatasan Perdamaian Jurnalisme
MediaTor
Dialog Antaragama, Media, Jurnalisme, bentrok
title Dialog Antaragama melalui Media: Perspektif dan Keterbatasan Perdamaian Jurnalisme
title_full Dialog Antaragama melalui Media: Perspektif dan Keterbatasan Perdamaian Jurnalisme
title_fullStr Dialog Antaragama melalui Media: Perspektif dan Keterbatasan Perdamaian Jurnalisme
title_full_unstemmed Dialog Antaragama melalui Media: Perspektif dan Keterbatasan Perdamaian Jurnalisme
title_short Dialog Antaragama melalui Media: Perspektif dan Keterbatasan Perdamaian Jurnalisme
title_sort dialog antaragama melalui media perspektif dan keterbatasan perdamaian jurnalisme
topic Dialog Antaragama, Media, Jurnalisme, bentrok
url http://ejournal.unisba.ac.id/index.php/mediator/article/view/794
work_keys_str_mv AT thomashanitzsch dialogantaragamamelaluimediaperspektifdanketerbatasanperdamaianjurnalisme