Method of Istinbath Al-Ahkam and Law Socialization by the Salafi-Wahabi Manhaj: Impacts on Social Interactions

This study examines the method of istinbath al-ahkam (deriving legal rulings) employed by scholars and leaders of the Salafi-Wahabi manhaj in issuing fatwas in North Sumatra and its impact on social interaction and harmony among different religious communities. The research adopts a combined approac...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Authors: Armaya Azmi, Faisar Ananda Arfa, Zainul Fuad, Syafaruddin Syafaruddin
Format: Article
Language:English
Published: UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu 2024-07-01
Series:Jurnal Madania
Subjects:
Online Access:https://ejournal.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/madania/article/view/3501
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
_version_ 1850164722776670208
author Armaya Azmi
Faisar Ananda Arfa
Zainul Fuad
Syafaruddin Syafaruddin
author_facet Armaya Azmi
Faisar Ananda Arfa
Zainul Fuad
Syafaruddin Syafaruddin
author_sort Armaya Azmi
collection DOAJ
description This study examines the method of istinbath al-ahkam (deriving legal rulings) employed by scholars and leaders of the Salafi-Wahabi manhaj in issuing fatwas in North Sumatra and its impact on social interaction and harmony among different religious communities. The research adopts a combined approach, encompassing a doctrinal perspective on istinbath al-ahkam and a non-doctrinal view on legal socialization issues. Through literature review, interviews, and observations, data is gathered from the fatwas of Salafi-Wahabi scholars such as Sheikh Muhammad Nasiruddin Albani, Abdullah bin Baz, and Muhammad Shalih Fauzan. The findings indicate that the istibath al-ahkam method applied by Salafi-Wahabi adheres to the principles of the Ahlu Sunnah wal Jamaah, though leaning towards the Hanbali school of thought. In legal socialization, Salafi-Wahabi initiates it from the smallest social units to educational institutions and media, with a focus on study circles (halaqah). This legal socialization enhances legal awareness among the people of North Sumatra but also brings the potential for conflict and disharmony. Certain teachings within the Salafi-Wahabi manhaj, such as tabdi’, tadlil, tahzir, takfiri, and the restriction of learning exclusively from Salafi-Wahabi scholars, have the potential to create tension among groups and religious communities. While not all members of the Salafi-Wahabi manhaj share identical views, a majority tends to embrace these controversial concepts. Therefore, extremist ideologies emerging within the Salafi-Wahabi jihadist faction pose a potential threat to national political stability.   Penelitian ini mengkaji metode istibath al-ahkam yang digunakan oleh para ulama dan pemimpin manhaj Salafi-Wahabi dalam mengeluarkan fatwa di Sumatera Utara dan dampaknya terhadap interaksi sosial dan kerukunan di antara berbagai komunitas agama yang berbeda. Penelitian ini menggunakan pendekatan gabungan, yang mencakup perspektif doktrinal tentang istibath al-ahkam dan pandangan non-doktrinal tentang isu-isu sosialisasi hukum. Melalui studi literatur, wawancara, dan observasi, data dikumpulkan dari fatwa-fatwa ulama Salafi-Wahabi seperti Syekh Muhammad Nasiruddin Albani, Abdullah bin Baz, dan Muhammad Shalih Fauzan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa metode istibath al-ahkam yang diterapkan oleh Salafi-Wahabi menganut prinsip-prinsip Ahlu Sunnah wal Jamaah, meskipun lebih condong ke mazhab Hanbali. Dalam sosialisasi hukum, Salafi-Wahabi memulainya dari unit sosial terkecil hingga lembaga pendidikan dan media, dengan fokus pada kelompok-kelompok pengajian (halaqah). Sosialisasi hukum ini meningkatkan kesadaran hukum di kalangan masyarakat Sumatera Utara, namun juga membawa potensi konflik dan ketidakharmonisan. Ajaran-ajaran tertentu dalam manhaj Salafi-Wahabi, seperti tabdi', tadlil, tahzir, takfiri, dan pembatasan belajar secara eksklusif dari ulama Salafi-Wahabi, memiliki potensi untuk menciptakan ketegangan di antara kelompok-kelompok dan komunitas-komunitas keagamaan. Meskipun tidak semua anggota manhaj Salafi-Wahabi memiliki pandangan yang sama, mayoritas cenderung menganut konsep-konsep kontroversial ini. Oleh karena itu, ideologi ekstremis yang muncul di dalam faksi jihadis Salafi-Wahabi menimbulkan ancaman potensial terhadap stabilitas politik nasional.
format Article
id doaj-art-e9c4d3953f784702ba83f06b400c309c
institution OA Journals
issn 1410-8143
2502-1826
language English
publishDate 2024-07-01
publisher UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu
record_format Article
series Jurnal Madania
spelling doaj-art-e9c4d3953f784702ba83f06b400c309c2025-08-20T02:21:54ZengUIN Fatmawati Sukarno BengkuluJurnal Madania1410-81432502-18262024-07-01281233410.29300/madania.v28i1.35013533Method of Istinbath Al-Ahkam and Law Socialization by the Salafi-Wahabi Manhaj: Impacts on Social InteractionsArmaya Azmi0Faisar Ananda Arfa1Zainul Fuad2Syafaruddin Syafaruddin3UIN Sumatra UtaraUIN Sumatra UtaraUIN Sumatra UtaraUIN Sumatra UtaraThis study examines the method of istinbath al-ahkam (deriving legal rulings) employed by scholars and leaders of the Salafi-Wahabi manhaj in issuing fatwas in North Sumatra and its impact on social interaction and harmony among different religious communities. The research adopts a combined approach, encompassing a doctrinal perspective on istinbath al-ahkam and a non-doctrinal view on legal socialization issues. Through literature review, interviews, and observations, data is gathered from the fatwas of Salafi-Wahabi scholars such as Sheikh Muhammad Nasiruddin Albani, Abdullah bin Baz, and Muhammad Shalih Fauzan. The findings indicate that the istibath al-ahkam method applied by Salafi-Wahabi adheres to the principles of the Ahlu Sunnah wal Jamaah, though leaning towards the Hanbali school of thought. In legal socialization, Salafi-Wahabi initiates it from the smallest social units to educational institutions and media, with a focus on study circles (halaqah). This legal socialization enhances legal awareness among the people of North Sumatra but also brings the potential for conflict and disharmony. Certain teachings within the Salafi-Wahabi manhaj, such as tabdi’, tadlil, tahzir, takfiri, and the restriction of learning exclusively from Salafi-Wahabi scholars, have the potential to create tension among groups and religious communities. While not all members of the Salafi-Wahabi manhaj share identical views, a majority tends to embrace these controversial concepts. Therefore, extremist ideologies emerging within the Salafi-Wahabi jihadist faction pose a potential threat to national political stability.   Penelitian ini mengkaji metode istibath al-ahkam yang digunakan oleh para ulama dan pemimpin manhaj Salafi-Wahabi dalam mengeluarkan fatwa di Sumatera Utara dan dampaknya terhadap interaksi sosial dan kerukunan di antara berbagai komunitas agama yang berbeda. Penelitian ini menggunakan pendekatan gabungan, yang mencakup perspektif doktrinal tentang istibath al-ahkam dan pandangan non-doktrinal tentang isu-isu sosialisasi hukum. Melalui studi literatur, wawancara, dan observasi, data dikumpulkan dari fatwa-fatwa ulama Salafi-Wahabi seperti Syekh Muhammad Nasiruddin Albani, Abdullah bin Baz, dan Muhammad Shalih Fauzan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa metode istibath al-ahkam yang diterapkan oleh Salafi-Wahabi menganut prinsip-prinsip Ahlu Sunnah wal Jamaah, meskipun lebih condong ke mazhab Hanbali. Dalam sosialisasi hukum, Salafi-Wahabi memulainya dari unit sosial terkecil hingga lembaga pendidikan dan media, dengan fokus pada kelompok-kelompok pengajian (halaqah). Sosialisasi hukum ini meningkatkan kesadaran hukum di kalangan masyarakat Sumatera Utara, namun juga membawa potensi konflik dan ketidakharmonisan. Ajaran-ajaran tertentu dalam manhaj Salafi-Wahabi, seperti tabdi', tadlil, tahzir, takfiri, dan pembatasan belajar secara eksklusif dari ulama Salafi-Wahabi, memiliki potensi untuk menciptakan ketegangan di antara kelompok-kelompok dan komunitas-komunitas keagamaan. Meskipun tidak semua anggota manhaj Salafi-Wahabi memiliki pandangan yang sama, mayoritas cenderung menganut konsep-konsep kontroversial ini. Oleh karena itu, ideologi ekstremis yang muncul di dalam faksi jihadis Salafi-Wahabi menimbulkan ancaman potensial terhadap stabilitas politik nasional.https://ejournal.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/madania/article/view/3501salafi-wahabimanhajistibath al-ahkamlegal socialization
spellingShingle Armaya Azmi
Faisar Ananda Arfa
Zainul Fuad
Syafaruddin Syafaruddin
Method of Istinbath Al-Ahkam and Law Socialization by the Salafi-Wahabi Manhaj: Impacts on Social Interactions
Jurnal Madania
salafi-wahabi
manhaj
istibath al-ahkam
legal socialization
title Method of Istinbath Al-Ahkam and Law Socialization by the Salafi-Wahabi Manhaj: Impacts on Social Interactions
title_full Method of Istinbath Al-Ahkam and Law Socialization by the Salafi-Wahabi Manhaj: Impacts on Social Interactions
title_fullStr Method of Istinbath Al-Ahkam and Law Socialization by the Salafi-Wahabi Manhaj: Impacts on Social Interactions
title_full_unstemmed Method of Istinbath Al-Ahkam and Law Socialization by the Salafi-Wahabi Manhaj: Impacts on Social Interactions
title_short Method of Istinbath Al-Ahkam and Law Socialization by the Salafi-Wahabi Manhaj: Impacts on Social Interactions
title_sort method of istinbath al ahkam and law socialization by the salafi wahabi manhaj impacts on social interactions
topic salafi-wahabi
manhaj
istibath al-ahkam
legal socialization
url https://ejournal.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/madania/article/view/3501
work_keys_str_mv AT armayaazmi methodofistinbathalahkamandlawsocializationbythesalafiwahabimanhajimpactsonsocialinteractions
AT faisaranandaarfa methodofistinbathalahkamandlawsocializationbythesalafiwahabimanhajimpactsonsocialinteractions
AT zainulfuad methodofistinbathalahkamandlawsocializationbythesalafiwahabimanhajimpactsonsocialinteractions
AT syafaruddinsyafaruddin methodofistinbathalahkamandlawsocializationbythesalafiwahabimanhajimpactsonsocialinteractions