“Panggil saja Aku Abang”: Pemaknaan, Negosiasi, dan Presentasi Identitas Gender Transman di Aceh

This study aims to explores how transmen in Aceh construct and negotiate their gender identity within a social and cultural context dominated by religious norms. Using the Narrative Inquiry method, this qualitative study focuses on the life stories of two transmen to uncover the interplay between p...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Authors: Fadhilah Rayyana, Sehat Ihsan Sadiqin, Musdawati Musdawati
Format: Article
Language:English
Published: UIN Ar-raniry, Program Studi Sosiologi Agama 2024-11-01
Series:Jurnal Sosiologi Agama Indonesia
Subjects:
Online Access:http://localhost/jsai/article/view/5577
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
_version_ 1850063908344168448
author Fadhilah Rayyana
Sehat Ihsan Sadiqin
Musdawati Musdawati
author_facet Fadhilah Rayyana
Sehat Ihsan Sadiqin
Musdawati Musdawati
author_sort Fadhilah Rayyana
collection DOAJ
description This study aims to explores how transmen in Aceh construct and negotiate their gender identity within a social and cultural context dominated by religious norms. Using the Narrative Inquiry method, this qualitative study focuses on the life stories of two transmen to uncover the interplay between personal desires, social pressures, and cultural constraints. The findings reveal that transmen in Aceh interpret their male identity as a response to internal self-awareness and external societal expectations. Despite facing significant challenges, such as family rejection and societal stigma, transmen employ various strategies to adjust their gender identity within the boundaries of Islamic norms and local culture. These strategies include selective social interactions, adhering to certain cultural expectations, and maintaining religious practices in alignment with their biological sex. The study also highlights the importance of family support and social networks in helping transmen navigate their identity amidst societal constraints. Community involvement provides a sense of solidarity, while flexible approaches to cultural norms enable transmen to sustain their identity without completely rejecting societal expectations. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana transman di Aceh membangun dan menegosiasikan identitas gender mereka dalam konteks sosial dan budaya yang didominasi oleh norma agama. Dengan menggunakan metode Narrative Inquiry, penelitian kualitatif ini mendalami kisah hidup dua transman untuk memahami hubungan antara keinginan personal, tekanan sosial, dan batasan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transman di Aceh memaknai identitas laki-laki mereka sebagai respons terhadap kesadaran diri dan harapan sosial. Meskipun menghadapi tantangan besar, seperti penolakan keluarga dan stigma masyarakat, transman mengembangkan berbagai strategi untuk menyesuaikan identitas gender mereka dalam batasan norma Islam dan budaya lokal. Strategi ini meliputi interaksi sosial yang selektif, mengikuti sebagian norma budaya, dan tetap menjalankan ibadah sesuai jenis kelamin biologis mereka. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya dukungan keluarga dan jaringan sosial dalam membantu transman menavigasi identitas mereka di tengah tekanan sosial. Keterlibatan dalam komunitas memberikan solidaritas yang memperkuat, sementara pendekatan fleksibel terhadap norma budaya memungkinkan transman mempertahankan identitas mereka tanpa sepenuhnya menolak ekspektasi sosial.
format Article
id doaj-art-e6a9cf21e497444da76bc87735285bd3
institution DOAJ
issn 2722-6700
language English
publishDate 2024-11-01
publisher UIN Ar-raniry, Program Studi Sosiologi Agama
record_format Article
series Jurnal Sosiologi Agama Indonesia
spelling doaj-art-e6a9cf21e497444da76bc87735285bd32025-08-20T02:49:27ZengUIN Ar-raniry, Program Studi Sosiologi AgamaJurnal Sosiologi Agama Indonesia2722-67002024-11-015310.22373/jsai.v5i3.5577“Panggil saja Aku Abang”: Pemaknaan, Negosiasi, dan Presentasi Identitas Gender Transman di AcehFadhilah Rayyana0Sehat Ihsan Sadiqin1Musdawati Musdawati2Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda AcehUniversitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda AcehUniversitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh This study aims to explores how transmen in Aceh construct and negotiate their gender identity within a social and cultural context dominated by religious norms. Using the Narrative Inquiry method, this qualitative study focuses on the life stories of two transmen to uncover the interplay between personal desires, social pressures, and cultural constraints. The findings reveal that transmen in Aceh interpret their male identity as a response to internal self-awareness and external societal expectations. Despite facing significant challenges, such as family rejection and societal stigma, transmen employ various strategies to adjust their gender identity within the boundaries of Islamic norms and local culture. These strategies include selective social interactions, adhering to certain cultural expectations, and maintaining religious practices in alignment with their biological sex. The study also highlights the importance of family support and social networks in helping transmen navigate their identity amidst societal constraints. Community involvement provides a sense of solidarity, while flexible approaches to cultural norms enable transmen to sustain their identity without completely rejecting societal expectations. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana transman di Aceh membangun dan menegosiasikan identitas gender mereka dalam konteks sosial dan budaya yang didominasi oleh norma agama. Dengan menggunakan metode Narrative Inquiry, penelitian kualitatif ini mendalami kisah hidup dua transman untuk memahami hubungan antara keinginan personal, tekanan sosial, dan batasan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transman di Aceh memaknai identitas laki-laki mereka sebagai respons terhadap kesadaran diri dan harapan sosial. Meskipun menghadapi tantangan besar, seperti penolakan keluarga dan stigma masyarakat, transman mengembangkan berbagai strategi untuk menyesuaikan identitas gender mereka dalam batasan norma Islam dan budaya lokal. Strategi ini meliputi interaksi sosial yang selektif, mengikuti sebagian norma budaya, dan tetap menjalankan ibadah sesuai jenis kelamin biologis mereka. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya dukungan keluarga dan jaringan sosial dalam membantu transman menavigasi identitas mereka di tengah tekanan sosial. Keterlibatan dalam komunitas memberikan solidaritas yang memperkuat, sementara pendekatan fleksibel terhadap norma budaya memungkinkan transman mempertahankan identitas mereka tanpa sepenuhnya menolak ekspektasi sosial. http://localhost/jsai/article/view/5577Identitas gendertransmanHukum IslamNegosiasi Sosial
spellingShingle Fadhilah Rayyana
Sehat Ihsan Sadiqin
Musdawati Musdawati
“Panggil saja Aku Abang”: Pemaknaan, Negosiasi, dan Presentasi Identitas Gender Transman di Aceh
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia
Identitas gender
transman
Hukum Islam
Negosiasi Sosial
title “Panggil saja Aku Abang”: Pemaknaan, Negosiasi, dan Presentasi Identitas Gender Transman di Aceh
title_full “Panggil saja Aku Abang”: Pemaknaan, Negosiasi, dan Presentasi Identitas Gender Transman di Aceh
title_fullStr “Panggil saja Aku Abang”: Pemaknaan, Negosiasi, dan Presentasi Identitas Gender Transman di Aceh
title_full_unstemmed “Panggil saja Aku Abang”: Pemaknaan, Negosiasi, dan Presentasi Identitas Gender Transman di Aceh
title_short “Panggil saja Aku Abang”: Pemaknaan, Negosiasi, dan Presentasi Identitas Gender Transman di Aceh
title_sort panggil saja aku abang pemaknaan negosiasi dan presentasi identitas gender transman di aceh
topic Identitas gender
transman
Hukum Islam
Negosiasi Sosial
url http://localhost/jsai/article/view/5577
work_keys_str_mv AT fadhilahrayyana panggilsajaakuabangpemaknaannegosiasidanpresentasiidentitasgendertransmandiaceh
AT sehatihsansadiqin panggilsajaakuabangpemaknaannegosiasidanpresentasiidentitasgendertransmandiaceh
AT musdawatimusdawati panggilsajaakuabangpemaknaannegosiasidanpresentasiidentitasgendertransmandiaceh