TRADISI MERARI’ SUKU SASAK DI LOMBOK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria<br />dengan seorang wanita sebagai suami istri untuk membentuk<br />keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang<br />Maha Esa. Ikatan perkawinan merupakan ikatan suci yang<br />berdasarkan nilai-nilai ket...
Saved in:
| Main Author: | |
|---|---|
| Format: | Article |
| Language: | Arabic |
| Published: |
Fakultas Syariah IAIN Madura
2014-10-01
|
| Series: | Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial |
| Online Access: | http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/alihkam/article/view/338 |
| Tags: |
Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
|
| _version_ | 1850228636700901376 |
|---|---|
| author | Bustami Saladin |
| author_facet | Bustami Saladin |
| author_sort | Bustami Saladin |
| collection | DOAJ |
| description | Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria<br />dengan seorang wanita sebagai suami istri untuk membentuk<br />keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang<br />Maha Esa. Ikatan perkawinan merupakan ikatan suci yang<br />berdasarkan nilai-nilai ketuhanan untuk membentuk keluarga<br />sakînah, mawaddah dan rahmah. Salah satu adat yang dipegang<br />teguh oleh masyarakat Lombok adalah kawin lari. Dalam adat<br />Sasak pernikahan dengan cara kawin lari ini lebih populer<br />disebut dengan merari’. Oleh karena itu, Merari’ dalam bahasa<br />Indonesia disebut dengan istilah kawin lari. Secara<br />terminologis, merari’ mengandung dua arti. Pertama, lari atau<br />melarikan. Ini adalah arti yang sebenarnya. Kedua, keseluruhan<br />pelaksanaan perkawinan menurut adat Sasak. Bagi masyarkat<br />Sasak, merari’ berarti mempertahankan harga diri dan<br />menggambarkan sikap kejantanan seorang pria Sasak, karena ia<br />berhasil mengambil (melarikan) seorang gadis pujaan hatinya.<br />Meskipun metode kawin lari ini tidak pernah dijelaskan di<br />dalam nash (al-Qur`an dan Hadits), tetapi bila ditinjau dari<br />perspektif maqâshid al-syarî’ah, maka stutus hukum pernikahan<br />dengan metode kawin lari ini tetap sah. Karena dalam<br />kelangsungan akad nikahnya tetap memenuhi syarat dan<br />rukun sebagaimana yang telah disyari’atkan Islam. |
| format | Article |
| id | doaj-art-cf6d19bd64e842ddb1d005ece3922956 |
| institution | OA Journals |
| issn | 1907-591X 2442-3084 |
| language | Arabic |
| publishDate | 2014-10-01 |
| publisher | Fakultas Syariah IAIN Madura |
| record_format | Article |
| series | Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial |
| spelling | doaj-art-cf6d19bd64e842ddb1d005ece39229562025-08-20T02:04:28ZaraFakultas Syariah IAIN MaduraAl-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial1907-591X2442-30842014-10-0181213910.19105/al-ihkam.v8i1.338338TRADISI MERARI’ SUKU SASAK DI LOMBOK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAMBustami Saladin0Program Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya JL. A. Yani 117 SurabayaPerkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria<br />dengan seorang wanita sebagai suami istri untuk membentuk<br />keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang<br />Maha Esa. Ikatan perkawinan merupakan ikatan suci yang<br />berdasarkan nilai-nilai ketuhanan untuk membentuk keluarga<br />sakînah, mawaddah dan rahmah. Salah satu adat yang dipegang<br />teguh oleh masyarakat Lombok adalah kawin lari. Dalam adat<br />Sasak pernikahan dengan cara kawin lari ini lebih populer<br />disebut dengan merari’. Oleh karena itu, Merari’ dalam bahasa<br />Indonesia disebut dengan istilah kawin lari. Secara<br />terminologis, merari’ mengandung dua arti. Pertama, lari atau<br />melarikan. Ini adalah arti yang sebenarnya. Kedua, keseluruhan<br />pelaksanaan perkawinan menurut adat Sasak. Bagi masyarkat<br />Sasak, merari’ berarti mempertahankan harga diri dan<br />menggambarkan sikap kejantanan seorang pria Sasak, karena ia<br />berhasil mengambil (melarikan) seorang gadis pujaan hatinya.<br />Meskipun metode kawin lari ini tidak pernah dijelaskan di<br />dalam nash (al-Qur`an dan Hadits), tetapi bila ditinjau dari<br />perspektif maqâshid al-syarî’ah, maka stutus hukum pernikahan<br />dengan metode kawin lari ini tetap sah. Karena dalam<br />kelangsungan akad nikahnya tetap memenuhi syarat dan<br />rukun sebagaimana yang telah disyari’atkan Islam.http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/alihkam/article/view/338 |
| spellingShingle | Bustami Saladin TRADISI MERARI’ SUKU SASAK DI LOMBOK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial |
| title | TRADISI MERARI’ SUKU SASAK DI LOMBOK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM |
| title_full | TRADISI MERARI’ SUKU SASAK DI LOMBOK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM |
| title_fullStr | TRADISI MERARI’ SUKU SASAK DI LOMBOK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM |
| title_full_unstemmed | TRADISI MERARI’ SUKU SASAK DI LOMBOK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM |
| title_short | TRADISI MERARI’ SUKU SASAK DI LOMBOK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM |
| title_sort | tradisi merari suku sasak di lombok dalam perspektif hukum islam |
| url | http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/alihkam/article/view/338 |
| work_keys_str_mv | AT bustamisaladin tradisimerarisukusasakdilombokdalamperspektifhukumislam |