RELASI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN (Menabrak Tafsir Teks, Menakar Realitas)

Istilah jender dianggap sebagai diferensiasi pria-wanita. Perbedaan ini muncul karena realitas budaya yang dibangun oleh masyarakat. Konsep ini bertentangan dengan seks, yang membedakan istilah pria-wanita secara biologis. Dengan demikian, perbedaan seks adalah konstruksi Allah, dan tidak dapat dika...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Author: Achmad Mulyadi
Format: Article
Language:Arabic
Published: Fakultas Syariah IAIN Madura 2014-10-01
Series:Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial
Online Access:https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/alihkam/article/view/327
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
Description
Summary:Istilah jender dianggap sebagai diferensiasi pria-wanita. Perbedaan ini muncul karena realitas budaya yang dibangun oleh masyarakat. Konsep ini bertentangan dengan seks, yang membedakan istilah pria-wanita secara biologis. Dengan demikian, perbedaan seks adalah konstruksi Allah, dan tidak dapat dikaji kembali. Di sisi lain, perbedaan jender adalah konstruksi sosial dan dapat dikaji kembali (qâbil li al- niqasy). Oleh karena itu, konsep relasi pria-wanita selalu diperdebatkan dalam hal baik dalam studi teks atau dalam konteks realitas di masyarakat. Artikel ini menguraikan pembentukan relasi pria-wanita dari perspektif teks, konstruksi budaya dan hari ini realitasnya. Dalam konteks ini, banyak tafsiran terhadap teks-teks sumber hukum Islam (al- Qur`an dan al-Hadits) justru menguatkan budaya patrilineal. Tradisi yang bias jender ini mengakar kuat dalam masyarakat. Walaupun demikian, hal yang tidak bisa diingkari adalah perubahan realitas. Saat ini mulai tampak bahwa peran-peran yang secara budaya dikonsepsikan untuk laki-laki justru dilakukan oleh perempuan. Fenomena ini merupakan wujud perubahan realitas, yang akan memunculkan budaya baru yang egaliter.
ISSN:1907-591X
2442-3084