Neurotransmitter Dalam Fisiologi Saraf Otonom

Sistem saraf otonom terdiri dari dua subsistem yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis yang kerjanya saling berlawanan. Memahami anatomi dan fisiologi sistem saraf otonom berguna memperkirakan efek farmakologi obat-obatan baik pada sistem saraf simpatis maupun parasimpatis. Sistem...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Authors: Iwan Dwi Cahyono, Himawan Sasongko, Aria Dian Primatika
Format: Article
Language:English
Published: Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro 2009-03-01
Series:JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)
Online Access:https://ejournal.undip.ac.id/index.php/janesti/article/view/6297
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
_version_ 1850065150661361664
author Iwan Dwi Cahyono
Himawan Sasongko
Aria Dian Primatika
author_facet Iwan Dwi Cahyono
Himawan Sasongko
Aria Dian Primatika
author_sort Iwan Dwi Cahyono
collection DOAJ
description Sistem saraf otonom terdiri dari dua subsistem yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis yang kerjanya saling berlawanan. Memahami anatomi dan fisiologi sistem saraf otonom berguna memperkirakan efek farmakologi obat-obatan baik pada sistem saraf simpatis maupun parasimpatis. Sistem saraf simpatis dimulai dari medula spinalis segmen torakolumbal. Saraf dari sistem saraf parasimpatis meninggalkan sistem saraf pusat melalui saraf-saraf kranial III, VII, IX dan X serta saraf sakral spinal kedua dan ketiga; kadangkala saraf sakral pertama dan keempat. Kira-kira 75% dari seluruh serabut saraf parasimpatis didominasi oleh nervus vagus (saraf kranial X). Sistem saraf simpatis dan parasimpatis selalu aktif dan aktivitas basalnya diatur oleh tonus simpatis atau tonus parasimpatis. Nilai tonus ini yang menyebabkan perubahan-perubahan aktivitas pada organ yang dipersarafinya baik peningkatan maupun penurunan aktivitas. Refleks otonom adalah refleks yang mengatur organ viseral meliputi refleks otonom kardiovaskular, refleks otonom gastrointestinal, refleks seksual, refleks otonom lainnya meliputi refleks yang membantu pengaturan sekresi kelenjar pankreas, pengosongan kandung empedu, ekskresi urin pada ginjal, berkeringat, konsentrasi glukosa darah dan sebagian besar fungsi viseral lainnya. Sistem parasimpatis biasanya menyebabkan respon setempat yang spesifik, berbeda dengan respon yang umum dari sistem simpatis terhadap pelepasan impuls secara masal, maka fungsi pengaturan sistem parasimpatis sepertinya jauh lebih spesifik.
format Article
id doaj-art-bcefb31e622241e5a1545d252cf532d1
institution DOAJ
issn 2337-5124
2089-970X
language English
publishDate 2009-03-01
publisher Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro
record_format Article
series JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)
spelling doaj-art-bcefb31e622241e5a1545d252cf532d12025-08-20T02:49:05ZengFakultas Kedokteran, Universitas DiponegoroJAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)2337-51242089-970X2009-03-0111425510.14710/jai.v1i1.62975503Neurotransmitter Dalam Fisiologi Saraf OtonomIwan Dwi Cahyono0Himawan Sasongko1Aria Dian Primatika2Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi, IndonesiaBagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi, IndonesiaBagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi, IndonesiaSistem saraf otonom terdiri dari dua subsistem yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis yang kerjanya saling berlawanan. Memahami anatomi dan fisiologi sistem saraf otonom berguna memperkirakan efek farmakologi obat-obatan baik pada sistem saraf simpatis maupun parasimpatis. Sistem saraf simpatis dimulai dari medula spinalis segmen torakolumbal. Saraf dari sistem saraf parasimpatis meninggalkan sistem saraf pusat melalui saraf-saraf kranial III, VII, IX dan X serta saraf sakral spinal kedua dan ketiga; kadangkala saraf sakral pertama dan keempat. Kira-kira 75% dari seluruh serabut saraf parasimpatis didominasi oleh nervus vagus (saraf kranial X). Sistem saraf simpatis dan parasimpatis selalu aktif dan aktivitas basalnya diatur oleh tonus simpatis atau tonus parasimpatis. Nilai tonus ini yang menyebabkan perubahan-perubahan aktivitas pada organ yang dipersarafinya baik peningkatan maupun penurunan aktivitas. Refleks otonom adalah refleks yang mengatur organ viseral meliputi refleks otonom kardiovaskular, refleks otonom gastrointestinal, refleks seksual, refleks otonom lainnya meliputi refleks yang membantu pengaturan sekresi kelenjar pankreas, pengosongan kandung empedu, ekskresi urin pada ginjal, berkeringat, konsentrasi glukosa darah dan sebagian besar fungsi viseral lainnya. Sistem parasimpatis biasanya menyebabkan respon setempat yang spesifik, berbeda dengan respon yang umum dari sistem simpatis terhadap pelepasan impuls secara masal, maka fungsi pengaturan sistem parasimpatis sepertinya jauh lebih spesifik.https://ejournal.undip.ac.id/index.php/janesti/article/view/6297
spellingShingle Iwan Dwi Cahyono
Himawan Sasongko
Aria Dian Primatika
Neurotransmitter Dalam Fisiologi Saraf Otonom
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)
title Neurotransmitter Dalam Fisiologi Saraf Otonom
title_full Neurotransmitter Dalam Fisiologi Saraf Otonom
title_fullStr Neurotransmitter Dalam Fisiologi Saraf Otonom
title_full_unstemmed Neurotransmitter Dalam Fisiologi Saraf Otonom
title_short Neurotransmitter Dalam Fisiologi Saraf Otonom
title_sort neurotransmitter dalam fisiologi saraf otonom
url https://ejournal.undip.ac.id/index.php/janesti/article/view/6297
work_keys_str_mv AT iwandwicahyono neurotransmitterdalamfisiologisarafotonom
AT himawansasongko neurotransmitterdalamfisiologisarafotonom
AT ariadianprimatika neurotransmitterdalamfisiologisarafotonom