Komplikasi Multi Organ pada Pasien yang Menjalani Operasi Double Valve Replacement
Latar Belakang: Penggantian lebih dari satu katup jantung digolongkan sebagai operasi risiko tinggi dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan operasi penggantian satu katup jantung. Kasus: Seorang wanita usia 35 tahun dengan stenosis katup aorta berat, regurgitasi katup aorta m...
Saved in:
| Main Authors: | , |
|---|---|
| Format: | Article |
| Language: | English |
| Published: |
Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro
2021-07-01
|
| Series: | JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) |
| Subjects: | |
| Online Access: | https://ejournal.undip.ac.id/index.php/janesti/article/view/31578 |
| Tags: |
Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
|
| _version_ | 1850118448734011392 |
|---|---|
| author | Iradewi Karseno Reza Sudjud |
| author_facet | Iradewi Karseno Reza Sudjud |
| author_sort | Iradewi Karseno |
| collection | DOAJ |
| description | Latar Belakang: Penggantian lebih dari satu katup jantung digolongkan sebagai operasi risiko tinggi dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan operasi penggantian satu katup jantung.
Kasus: Seorang wanita usia 35 tahun dengan stenosis katup aorta berat, regurgitasi katup aorta moderat dan stenosis katup mitral berat disertai atrial fibrilasi menjalani operasi double-valve replacement. Komplikasi yang ditemukan di intensive care unit (ICU) berupa perdarahan yang signifikan, fibrilasi atrial, cedera ginjal akut dan perdarahan intrakranial.
Pembahasan: Komplikasi yang mungkin ditemukan setelah penggantian dua katup jantung meliputi koagulopati, cedera ginjal akut, aritmia dan gangguan serebrovaskular. Koagulopati dapat menyebabkan perdarahan yang signifikan dan instabilitas hemodinamik sehingga harus diberikan tatalaksana yang tepat. Aritmia dapat disebabkan oleh imbalans elektrolit. Cedera ginjal akut sering ditemukan pascaoperasi jantung terbuka dan sebaiknya dilakukan hemodialisis sesegera mungkin. Tatalaksana gangguan serebrovaskular dapat bersifat konservatif atau operasi. Keputusan tatalaksana gangguan serebrovaskular harus disesuaikan menurut kondisi klinis pasien.
Kesimpulan: Deteksi dini dan tatalaksana yang cepat dan tepat sangatlah penting untuk menghindari morbiditas dan mortalitas pascaoperasi yang signifikan. |
| format | Article |
| id | doaj-art-a645a35120a148db8b048667bb39b073 |
| institution | OA Journals |
| issn | 2337-5124 2089-970X |
| language | English |
| publishDate | 2021-07-01 |
| publisher | Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro |
| record_format | Article |
| series | JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) |
| spelling | doaj-art-a645a35120a148db8b048667bb39b0732025-08-20T02:35:53ZengFakultas Kedokteran, Universitas DiponegoroJAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)2337-51242089-970X2021-07-0113212513310.14710/jai.v13i2.3157819058Komplikasi Multi Organ pada Pasien yang Menjalani Operasi Double Valve ReplacementIradewi Karseno0Reza Sudjud1Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, IndonesiaDepartemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, IndonesiaLatar Belakang: Penggantian lebih dari satu katup jantung digolongkan sebagai operasi risiko tinggi dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan operasi penggantian satu katup jantung. Kasus: Seorang wanita usia 35 tahun dengan stenosis katup aorta berat, regurgitasi katup aorta moderat dan stenosis katup mitral berat disertai atrial fibrilasi menjalani operasi double-valve replacement. Komplikasi yang ditemukan di intensive care unit (ICU) berupa perdarahan yang signifikan, fibrilasi atrial, cedera ginjal akut dan perdarahan intrakranial. Pembahasan: Komplikasi yang mungkin ditemukan setelah penggantian dua katup jantung meliputi koagulopati, cedera ginjal akut, aritmia dan gangguan serebrovaskular. Koagulopati dapat menyebabkan perdarahan yang signifikan dan instabilitas hemodinamik sehingga harus diberikan tatalaksana yang tepat. Aritmia dapat disebabkan oleh imbalans elektrolit. Cedera ginjal akut sering ditemukan pascaoperasi jantung terbuka dan sebaiknya dilakukan hemodialisis sesegera mungkin. Tatalaksana gangguan serebrovaskular dapat bersifat konservatif atau operasi. Keputusan tatalaksana gangguan serebrovaskular harus disesuaikan menurut kondisi klinis pasien. Kesimpulan: Deteksi dini dan tatalaksana yang cepat dan tepat sangatlah penting untuk menghindari morbiditas dan mortalitas pascaoperasi yang signifikan.https://ejournal.undip.ac.id/index.php/janesti/article/view/31578double-valve replacementkomplikasi multiorgankomplikasi pascaoperasioperasi jantung terbukatatalaksana pascaoperasi |
| spellingShingle | Iradewi Karseno Reza Sudjud Komplikasi Multi Organ pada Pasien yang Menjalani Operasi Double Valve Replacement JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) double-valve replacement komplikasi multiorgan komplikasi pascaoperasi operasi jantung terbuka tatalaksana pascaoperasi |
| title | Komplikasi Multi Organ pada Pasien yang Menjalani Operasi Double Valve Replacement |
| title_full | Komplikasi Multi Organ pada Pasien yang Menjalani Operasi Double Valve Replacement |
| title_fullStr | Komplikasi Multi Organ pada Pasien yang Menjalani Operasi Double Valve Replacement |
| title_full_unstemmed | Komplikasi Multi Organ pada Pasien yang Menjalani Operasi Double Valve Replacement |
| title_short | Komplikasi Multi Organ pada Pasien yang Menjalani Operasi Double Valve Replacement |
| title_sort | komplikasi multi organ pada pasien yang menjalani operasi double valve replacement |
| topic | double-valve replacement komplikasi multiorgan komplikasi pascaoperasi operasi jantung terbuka tatalaksana pascaoperasi |
| url | https://ejournal.undip.ac.id/index.php/janesti/article/view/31578 |
| work_keys_str_mv | AT iradewikarseno komplikasimultiorganpadapasienyangmenjalanioperasidoublevalvereplacement AT rezasudjud komplikasimultiorganpadapasienyangmenjalanioperasidoublevalvereplacement |