Teologi Kontekstual-Transformatif I Wayan Mastra dalam Pengembangan Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) dari 1970-an sampai 1990-an

Studi ini mengkaji model teologi kontekstual-transformatif yang dikembangkan oleh I Wayan Mastra dalam revitalisasi Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) antara dekade 1970–1990-an. Dengan menggunakan metode sejarah, hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi teologi kontekstual ke dalam praksis...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Author: Amos Sukamto
Format: Article
Language:English
Published: Reformed Center for Religion and Society 2025-08-01
Series:Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat
Subjects:
Online Access:http://178.128.110.99/index.php/SD/article/view/531
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
Description
Summary:Studi ini mengkaji model teologi kontekstual-transformatif yang dikembangkan oleh I Wayan Mastra dalam revitalisasi Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) antara dekade 1970–1990-an. Dengan menggunakan metode sejarah, hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi teologi kontekstual ke dalam praksis memerlukan kehadiran pemimpin yang membumi dan reflektif dalam konteksnya. Pemimpin demikian ditandai oleh tiga kualitas utama: pertama, kepekaan eksistensial terhadap konteks sosial yang digeluti, sebagaimana dimaknai dalam konsep conscientization menurut Paulo Freire; kedua, kesiapan untuk ditempa melalui “kawah candradimuka”—baik dalam ranah akademik maupun nonakademik—yang menghasilkan pribadi yang wasis, terbuka, kritis, dan praktis; serta ketiga, dorongan batiniah yang berakar pada bela rasa (splagcnizomai) yang menggerakkan pemimpin untuk bertindak secara konkret di tengah realitas krisis. Kerangka kerja metodologi yang dikembangkan Mastra menunjukkan pendekatan sistematis dan visioner. Dimulai dari identifikasi akar masalah, lahirlah visi transformatif melalui (1) perumusan nilai dasar sebagai katalis transformasi sosial; (2) pembaruan teologis melalui dekolonisasi hermeneutis; dan (3) praksis holistik yang menyentuh aspek kerohanian, kebudayaan, pendidikan, serta ekonomi. Implementasi praksis mencakup kontekstualisasi Injil, penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasional dan formal, serta pemberdayaan ekonomi warga jemaat berbasis potensi lokal. Dengan demikian, model teologi ini tidak hanya bersifat reflektif, melainkan juga operasional dalam memperjuangkan keutuhan manusia dan pembebasan komunitas.
ISSN:2407-0556
2599-3267