Gangguan Produksi Bahasa Tokoh Utama dalam Film Miracle in Cell No. 7: Perspektif Psikolinguistik

Miracle in Cell No. 7 Indonesia adalah adaptasi dari film Korea Selatan tahun 2013, yang mengisahkan seorang ayah dengan disabilitas intelektual dan putrinya, serta perjuangan mereka melawan ketidakadilan, tentunya dengan sentuhan budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan me...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Authors: Nayyirotul Fitria, Shofil Fikri, Dea Annisa Fikri, Nashirul Khoir, Khoirul Safril Umam
Format: Article
Language:English
Published: Uhamka 2025-03-01
Series:Imajeri
Subjects:
Online Access:https://journal.uhamka.ac.id/index.php/imajeri/article/view/17088
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
Description
Summary:Miracle in Cell No. 7 Indonesia adalah adaptasi dari film Korea Selatan tahun 2013, yang mengisahkan seorang ayah dengan disabilitas intelektual dan putrinya, serta perjuangan mereka melawan ketidakadilan, tentunya dengan sentuhan budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis gangguan produksi bahasa yang dialami oleh tokoh Dodo, yang merupakan individu dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Penelitian ini akan mengkaji berbagai aspek gangguan bahasa yang muncul pada Dodo, seperti kesulitan dalam pemilihan kata, pengorganisasian kalimat, serta hambatan dalam menyampaikan pikiran dan perasaan secara efektif dengan menggunakan perspektif Thomas Scovel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data primer diambil dari adegan dalam film Miracle im Cell No.7. Adapun data sekunder diperoleh dari dokumen, buku, jurnal, artikel, serta hasil penelitian dan studi terkait yang relevan. Data-data tersebut dikumpulkan dengan teknik simak dan catat. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis melalui tiga tahap, yakni reduksi, penyajian data lalu penarikan kesimpulan. Dari penelitian dihasilkan temuan bahwa pada tahap konseptualisasi, Dodo kesulitan merencanakan dan menyusun kalimat yang koheren, terutama saat berada di bawah tekanan emosional, sehingga ucapannya sulit dipahami. Di tahap formulasi, ia sering kali menjawab pertanyaan dengan pernyataan yang tidak relevan atau mengulang kata-kata yang telah didengar sebelumnya, yang memperlihatkan hambatan dalam menyusun respons sesuai dengan konteks percakapan. Dalam tahap artikulasi, pengucapan Dodo menjadi tidak jelas dan terputus-putus, terutama saat ia merasa cemas atau panik. Pada tahap pemantauan diri, Dodo mengalami kesulitan menyesuaikan respons verbal dan non-verbalnya terhadap situasi sosial, terutama dalam situasi yang penuh emosi.
ISSN:2654-4199