Tablet Pemurni Air Yang Terkontaminasi Logam Berat Dengan Memanfaatkan Limbah Kerang Darah (Tegillarca Granosa)

Pencemaran air akibat aktivitas manusia adalah masalah lingkungan yang harus ditangani serius karena memiliki dampak yang dapat merugikan ekosistem. Salah satu indikator utama degradasi lingkungan dalam sistem perairan adalah keberadaan logam berat di perairan pesisir, yang berasal dari aktivitas i...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Authors: Marlon Managi I Wayan, Ida Ayu Anom Arsani, Natan Wimargamal
Format: Article
Language:English
Published: Politeknik Negeri Jakarta 2025-08-01
Series:Jurnal Mekanik Terapan
Subjects:
Online Access:http://jurnal.pnj.ac.id/index.php/jmt/article/view/7536
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
Description
Summary:Pencemaran air akibat aktivitas manusia adalah masalah lingkungan yang harus ditangani serius karena memiliki dampak yang dapat merugikan ekosistem. Salah satu indikator utama degradasi lingkungan dalam sistem perairan adalah keberadaan logam berat di perairan pesisir, yang berasal dari aktivitas industri dan alam. Salah satu metode yang efektif untuk menghilangkan kandungan logam berat dalam lingkungan adalah melalui proses adsorpsi. Proses penyerapan atau absorbsi digunakan karena hemat biaya dan serta tidak memiliki efek samping yang berbahaya. Bahan penyerap seperti kulit kerang dapat digunakan untuk menghilangkan logam berat setelah menjalani proses kalsinasi, yang melibatkan pemanasan untuk mengubahnya menjadi karbon. Proses pemanasan ini mengikuti sistem oven dua tahap: fase pengeringan awal pada suhu 100–150°C, diikuti oleh kalsinasi pada suhu yang bervariasi yaitu 400°C, 650°C, dan 900°C. Proses kalsinasi bertujuan untuk menguraikan mineral, meningkatkan efisiensi karbonisasi, serta memurnikan produk arang yang dihasilkan. Selama tahap ini, terjadi reaksi karbonasi dan kalsinasi secara simultan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi optimal untuk cangkang kerang darah dicapai pada suhu kalsinasi 400°C, dengan efisiensi 99,3%. Pada suhu 650°C, kapasitas adsorpsi sedikit menurun menjadi 99,1%, sedangkan pada suhu 900°C, kapasitas adsorpsi semakin menurun menjadi 98,4%.
ISSN:2747-1381