MANAKAR KAFÂ`AH DALAM PRAKTIK PERKAWINAN KYAI DI MADURA

<p><strong>Abstrak:</strong></p> <p>Kajian ini difokuskan pada persoalan, secara garis besar, bagaimana pandangan kyai tentang <em>kafâ`ah</em> dan praktiknya dalam perkawinan. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena subjek yang diteliti memerluk...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Author: Syukron Mahbub Syukron Mahbub
Format: Article
Language:Arabic
Published: Fakultas Syariah IAIN Madura 2013-08-01
Series:Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial
Online Access:http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/alihkam/article/view/311
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
_version_ 1850255539173326848
author Syukron Mahbub Syukron Mahbub
author_facet Syukron Mahbub Syukron Mahbub
author_sort Syukron Mahbub Syukron Mahbub
collection DOAJ
description <p><strong>Abstrak:</strong></p> <p>Kajian ini difokuskan pada persoalan, secara garis besar, bagaimana pandangan kyai tentang <em>kafâ`ah</em> dan praktiknya dalam perkawinan. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena subjek yang diteliti memerlukan pengamatan secara utuh dan menyeluruh tentang kondisi yang sebenarnya. Data dalam  kajian ini diperoleh melalui observasi partisipan, dan wawancara mendalam. Kajian ini menghasilkan temuan bahwa kyai melakukan perkawinan antar keluarga dekat dan kerabat yang berasal dari keluarga kyai juga. Mereka menghindari terjadinya perkawinan dengan kerabat lain yang berasal dari keluarga non kyai. Dalam kaitannya dengan sikap perkawinan kyai ini, ditemukan dua tipe kyai yang berbeda yaitu: <em>Pertama</em>, tipe  kyai fanatik keturunan; <em>kedua,</em> tipe kyai fleksibel dalam memberikan keputusan. Kyai fanatik keturunan menjadikan faktor keturunan sebagai alasan pertama dan utama dalam memilih pendamping hidup bagi anak-anaknya. dalam mengambil langkah tindakannya kyai fanatik keturunan ini setidaknya dipengaruhi oleh dua hal. <em>Pertama</em>, adanya wasiat nenek moyang yang diikuti oleh generasi berikutnya. <em>Kedua</em>, adanya usaha untuk menjaga kemurnian keturunan. Sedangkan kyai fleksibel tidak begitu  fanatik terhadap keturunan dalam mengambil keputusan. Dalam masalah <em>kafâ’ah</em>, selain faktor keturunan, mereka juga mempertimbangkan faktor yang lain, seperti faktor kekayaan, nilai agama yang kuat serta kecakapan ilmu pengetahuan.</p> <p> </p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstract:</strong></p> <p>This study was designed to examine the view of kyai toward <em>kafâ</em>`<em>ah</em> and its practice in marriage. Qualitative approach has been used to collect intact and whole data from the subject by using the instruments of participatory observation and in-depth interview. It was found that kyai performs a marriage with the close family members and among relatives. They avoid a marriage with a family of different lineage particularly non-kyai family.  From the perspective of this marriage attitude, it could be catagorized two types of kyai. <em>Firstly</em>, is a kyai which is offspring fanatic, and secondly, a kyai which is flexible in giving decision. The former is influenced by two factors---firstly, ancestor will and <em>second</em>, the attempts to keep the family chasity. The later is not adhering strictly to the family genuinity. <em>Kafâ</em>`<em>ah</em> also takes a consideration on other factors such as opulence, the firm religious values, and knowledge proficiency.</p> <p> </p> <p><strong>Kata-kata Kunci:</strong><strong> </strong></p> <p>Kyai, <em>kafâ`ah</em>, Madura, dan perkawinan</p>
format Article
id doaj-art-3c22ab7c622b41d68fb097c36dc9c236
institution OA Journals
issn 1907-591X
2442-3084
language Arabic
publishDate 2013-08-01
publisher Fakultas Syariah IAIN Madura
record_format Article
series Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial
spelling doaj-art-3c22ab7c622b41d68fb097c36dc9c2362025-08-20T01:56:51ZaraFakultas Syariah IAIN MaduraAl-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial1907-591X2442-30842013-08-016222825510.19105/al-ihkam.v6i2.311311MANAKAR KAFÂ`AH DALAM PRAKTIK PERKAWINAN KYAI DI MADURASyukron Mahbub Syukron Mahbub<p><strong>Abstrak:</strong></p> <p>Kajian ini difokuskan pada persoalan, secara garis besar, bagaimana pandangan kyai tentang <em>kafâ`ah</em> dan praktiknya dalam perkawinan. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena subjek yang diteliti memerlukan pengamatan secara utuh dan menyeluruh tentang kondisi yang sebenarnya. Data dalam  kajian ini diperoleh melalui observasi partisipan, dan wawancara mendalam. Kajian ini menghasilkan temuan bahwa kyai melakukan perkawinan antar keluarga dekat dan kerabat yang berasal dari keluarga kyai juga. Mereka menghindari terjadinya perkawinan dengan kerabat lain yang berasal dari keluarga non kyai. Dalam kaitannya dengan sikap perkawinan kyai ini, ditemukan dua tipe kyai yang berbeda yaitu: <em>Pertama</em>, tipe  kyai fanatik keturunan; <em>kedua,</em> tipe kyai fleksibel dalam memberikan keputusan. Kyai fanatik keturunan menjadikan faktor keturunan sebagai alasan pertama dan utama dalam memilih pendamping hidup bagi anak-anaknya. dalam mengambil langkah tindakannya kyai fanatik keturunan ini setidaknya dipengaruhi oleh dua hal. <em>Pertama</em>, adanya wasiat nenek moyang yang diikuti oleh generasi berikutnya. <em>Kedua</em>, adanya usaha untuk menjaga kemurnian keturunan. Sedangkan kyai fleksibel tidak begitu  fanatik terhadap keturunan dalam mengambil keputusan. Dalam masalah <em>kafâ’ah</em>, selain faktor keturunan, mereka juga mempertimbangkan faktor yang lain, seperti faktor kekayaan, nilai agama yang kuat serta kecakapan ilmu pengetahuan.</p> <p> </p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstract:</strong></p> <p>This study was designed to examine the view of kyai toward <em>kafâ</em>`<em>ah</em> and its practice in marriage. Qualitative approach has been used to collect intact and whole data from the subject by using the instruments of participatory observation and in-depth interview. It was found that kyai performs a marriage with the close family members and among relatives. They avoid a marriage with a family of different lineage particularly non-kyai family.  From the perspective of this marriage attitude, it could be catagorized two types of kyai. <em>Firstly</em>, is a kyai which is offspring fanatic, and secondly, a kyai which is flexible in giving decision. The former is influenced by two factors---firstly, ancestor will and <em>second</em>, the attempts to keep the family chasity. The later is not adhering strictly to the family genuinity. <em>Kafâ</em>`<em>ah</em> also takes a consideration on other factors such as opulence, the firm religious values, and knowledge proficiency.</p> <p> </p> <p><strong>Kata-kata Kunci:</strong><strong> </strong></p> <p>Kyai, <em>kafâ`ah</em>, Madura, dan perkawinan</p>http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/alihkam/article/view/311
spellingShingle Syukron Mahbub Syukron Mahbub
MANAKAR KAFÂ`AH DALAM PRAKTIK PERKAWINAN KYAI DI MADURA
Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial
title MANAKAR KAFÂ`AH DALAM PRAKTIK PERKAWINAN KYAI DI MADURA
title_full MANAKAR KAFÂ`AH DALAM PRAKTIK PERKAWINAN KYAI DI MADURA
title_fullStr MANAKAR KAFÂ`AH DALAM PRAKTIK PERKAWINAN KYAI DI MADURA
title_full_unstemmed MANAKAR KAFÂ`AH DALAM PRAKTIK PERKAWINAN KYAI DI MADURA
title_short MANAKAR KAFÂ`AH DALAM PRAKTIK PERKAWINAN KYAI DI MADURA
title_sort manakar kafa ah dalam praktik perkawinan kyai di madura
url http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/alihkam/article/view/311
work_keys_str_mv AT syukronmahbubsyukronmahbub manakarkafaahdalampraktikperkawinankyaidimadura